Selftalk · Uneguneg

Agen Muslim

“kemarin waktu naik commuterline, di deket pintu ada dua orang mba-mba akhwat berdiri mba,. Jilbabnya besar. Terus waktu minum, mereka juga jongkok dulu sebelum minum.”

Kata adik saya memulai ceritanya..

“nah disebelah aku pas ada mba-mba ****** (ga perlu disebutkan lah yah :D, yang intinya jika dilihat sekilas ada kemungkinan besar mereka bukan muslim), mereka ngomong sambil bisik-bisik. Tapi karena aku disebelahnya pas, aku denger mereka ngomong apa”

“mba-mba yang satunya bilang: ‘ihh emang ga panas apa yah, ditutup begitu. Gua aja yang ngeliatnya udah gerah. Mana baju panjangnya bangat lagi. Terus juga mau minum aja ribet bangat yah? Minum mah tinggal minum ajah ya, ngapain pake jongkok dulu. Hehe kalo gua pengen nyuruh mba-mba nya maen ke rumah gua, terus ngepel rumah gua pake bajunya (yang panjang itu)”

“Terus septi ngapain?” tanyaku pada adikku yang mengakhiri ceritanya..

“septi cuma diem, nunduk ke bawah aja” jawab adikku lugu..

Allahu Akbar!

Saya juga memang hanya terdiam saat mendengar adik saya menceritakan hal diatas.

Diam,
namun ada sesuatu di dalam diri ini yang terasa sakit, ingin marah, sekaligus sedih dan ingin menangis.
Semuanya memiliki rasa yang sama kuatnya, bergemuruh di dalam dada.
“yaa Allah” seru ku dalam hati.

“kasihan yah mereka sampe kegerahan gitu ngeliatnya, padahal mah kita yang pake jilbab mah biasa aja ya dek?” tanyaku.

“iya, tau tuh” jawab adikku menyepakati pernyataanku.

Sengaja menanyakannya,
Hanya memastikan bahwa adik semata wayang tidak terpengaruh atas apa yang baru di dengarnya tadi.

 

Instropeksi.

Memang tidak bisa dipungkiri,
Rasanya marah sekali waktu mendengar cerita (nyata) diatas.
Namun kemudian, timbul pula sebuah pertanyaan: apa yah, yang membuat mereka sampai ‘tega’ mengatakan hal itu kepada kita?

Klo mau menggunakan logika sekalipun,
Jelas tidak ada interaksi antara mba-mba akhwat dengan mereka yang merugikan mereka.

Ah iya,
Mungkin mba-mba itu pernah mengalami trauma dengan orang yang penampakannya mirip atau menyerupai kedua mba akhwat tadi. Mungkin.. trauma itu yang kemudian membuatnya bisa dengan cepat men-judge orang-orang yang kemudian memiliki penampilan yang sama akhwat tadi.

Mungkiiiinn lho yah…

Berbeda dengan mereka,

Kalo kita orang islam, dicontohkan sama Rasulullah saw untuk bisa mengedepankan prasangka baik, kepada siapapun. Jadi ga berani gituh gampang nge-judge orang, apalagi yang baru ketemu.

 

Agen muslim

Menjadi agen muslim yang baik,
Begitu kira-kira point utama yang bisa saya ambil dari bukunya mba Hanum Salsabila Rais “99 Cahaya di Langit Eropa”.

Suka ga suka,
*seharusnya sih suka, hehe
Kita sebagai seorang muslim,
Apalagi kita muslimah,
Akan selalu membawa kemana-kemana identitas diri kita sebagai orang Islam, kemanapun kita pergi.

Jadinya perlu ga sih punya sikap jaim?
Uhmm.. saya rasa itu penting dan butuh.
Eits, tapi bukan jaim yang menjadikan kita munafik lho ya?!
Na’udzhubillahmindzalik..

Jadi misalnya begini,
Kalo dulu kita punya kebiasaan yang super ekspresif dalam meluapkan amarah atau ketidaksukaan kita akan sesuatu melalui lisan kita,

Ketika kemudian kita sudah tahu mengenai pentingnya menjaga lidah, menahan amarah dan menjaga perasaan saudara kita, perlahan-lahan ketika rasa marah itu sudah meluap-luap minta dikeluarkan, buru-buru kita istighfar, tahan diri dengan tetap diam. Dan segera ambil wudhu jika memungkinkan..

Pokoknya mengendalikan diri kita, supaya tidak sampai mengeluarkan kata-kata yang membuat kita menyesal telah mengucapkannya.

Tappii ituu sulit?
Emaaanngg..

Tapi insyaaLlah, klo terus pelan-pelan dipraktekkan, nanti bisa jadi kebiasaan baru kita.
insyaaLlah.

Jaim seperti ini yang saya maksudkan,
Jaim untuk selalu berproses, untuk selalu melatih diri menjadi lebih baik,
Kepada siapapun, dimanapun dan kapanpun.

Karena,
Lagi-lagi setiap kita adalah cerminan bagi saudara muslim kita yang lainnya,
Dan tidak hanya sebatas cerminan untuk saudara muslim di Indonesia saja, tapi juga di seluruh dunia.

Pun juga dengan saudara-saudara muslim kita yang berarti adalah cermin bagi diri kita.
maka jika salah satu dari kita retak, pada siapa kemudian diri ini akan berkaca?

Seberapa besar cintamu pada saudaramu terukur dari seberapa kuat usahamu untuk menghindarkan saudaramu tersebut dari kelalaian dan perbuatan dosa. Begitu kata mba ‘sampai langit’ yang ditulisnya di rumah tumblr-nya 🙂

Lalu,
Ayo!
Kita sama-sama belajar untuk menjadi muslimah yang menyenangkan,
Bagi keluarga kita, sahabat-sahabat kita, tetangga kita, orang-orang yang mengenal kita, orang-orang yang tidak mengenal kita dan kepada seluruh makhluk-Nya di bumi ini..

Karena,
Islam itu Rahmatan lil ‘alamin,
Rahmat untuk semuanya..

Dan karena kita orang islam itu,
Maka kita-lah agen Rahmatan lil ‘alamin itu.. 🙂

 

Jakarta,
January 12, 2015
Ditemani rintik rahmat-Nya yang turun satu demi satu membasahi dan menyuburkan bumi,

Alhamdulillah.

PS: lagi-lagi dibuat bersyukur karena telah ditakdirkan untuk lahir sebagai muslim dan ditempatkan di Indonesia. Ga kebayang aja, kalo di sini si mba diatas Cuma bisa sebatas ‘ingin’, mungkin di tempat lain, sudah ada saudara-saudara kita yang diperlakukan seperti itu.. T.T

Allahummansur ikhwana al muslimiin, wal mujahidiina fi suriiya, fi falistiin, fi gaza, fi misry, fi turky, fi rohingya, fi kullii makaan wa kulli zamaan.. Aamiin.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s